Saturday, September 26, 2009

Reuni nih...

Ada satu masa di kala aku merasa bosan dan ingin cepat melalui masa itu. Ingin rasanya aku lompati saat-saat itu karena sesuatu hal yang tidak aku sukai. Ada kalanya aku benci dengan apa yang sedang terjadi dengan aku karena hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang aku ingin kan. Dan aku juga yakin ini tidak hanya terjadi pada diriku sendiri. Kamu dan semua orang di dunia ini juga pasti pernah mengalaminya. Tapi benarkah kita harusnya mensikapi hal-hal tersebut demikian? Sekarang di kala aku sedang sendiri, terpaku pada suatu masa, aku kadang berpikir seandainya... Seandainya begini, seandainya begitu... Tapi seandainya tidak akan mungkin terjadi, karena tidak satupun dari kita bisa memutar balik waktu.

     Hari ini aku menghadiri acara reuni yang diadakan oleh teman-teman seangkatan sewaktu SMA dulu. Ada beberapa wajah yang kukenal, sementara lainya mungkin sekelebat pernah aku ingat, tapi aku sendiri ragu apa aku pernah mengenal mereka. Ada banyak rasa yang timbul saat aku perhatikan keberadaan mereka. Ada keberhasilan yang diperlihatkan, tapi ada pula keterpurukan yang sekelebat tampak. Ada sedikit rasa cemburu akan keberhasilan mereka, tapi dalam sekejap sirna dengan rasa bangga akan apa yang mereka perlihatkan pada yang lain. Aku tak melihat rasa kesombongan atsa semua pencapaian yang mereka raih. Secara fisik, tentu mereka juga banyak berubah. Ada yang bertambah gemuk, ada yang malah tambah ramping dan makin menarik. Sementara lainya, lebih banyak pada pengurangan penampilan. Rambut yang dulu hitam lebat, kini ada yang mulai menipis dan berganti uban. Yang dulu begitu menawan karena masa mudanya, kini berganti menjadi lebih 'dewasa' dengan tambahan kerut dan lebarnya permukaan kening. NAmun, diluar itu semua, mereka masih orang yang samakita kenal... dulu. Perubahan fisik memang terjadi. Tapi tak tampak olehku penyesalan akan apa yang telah terjadi.

     Setelah tujuh belas tahun lamanya kami tak bertemu, kami punya satu topik yang sama. Masa lalu yang menyenangkan. Dulu kita begitu ingin cepat melewatkan masa-masa yang menyebalkan itu. Tapi sekarang, ada rasa kita yang rindu akan masa-masa 'menyebalkan' itu. Dari masa lalu, topiknya beralih ke tinggal di mana sekarang? Kerja apa? Sudah punya anak berapa? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat lazim ditanyakan, tapi punya jawaban yang beragam bagi setiap orang. Ada yang bereaksi senang, ada yang bereaksi seadanya, dan tidak sedikit bereaksi tidak peduli. Tapi yang aku perhatikan hanya apa yang mereka sampaikan. Aku sama sekali dengan cara mereka menyampaikan, karena itu tidak penting bagiku. Hari ini aku hanya ingin melihat kebahagiaan. Hari ini aku hanya ingin melihat tawa. Dan itu semua aku dapat hari ini. Kami sudah tidak punya waktu membahas penderitaan. Biarlah penderitaan yang pernah kami alami sebelum ini kami pendam sendiri. Tak guna bagi kami berbagi penderitaan. Masa 17 tahun terlalu banyak yang dialami, dan hari ini kami hanya punya beberapa jam saja. Jadi buat apa kami habiskan untuk menyesali diri. Aku sangt setuju dengan hal ini. Reuni memang saatnya untuk berbagi, berbahagia, bersuka-cita. Bukan saatnya meratapi diri dan bermuram. Selamat bereuni. Berbagi kisah gembira.
Blogged with the Flock Browser

Friday, September 25, 2009

It's time for Change!

If there is absolute in this world, it must be the changes. Anything in this world has to change somehow. People around us also change. The changes can be for the better or can also be for the worse. For me this "Lebaran day"is the start for my official changes in many ways. For the past years I have been experiencing some emotional upheavals that in a way force me to change. The changes that I had undergone were not always smooth. Some even involved of having broken-heart, which didn't mean in romantic ways. Some involved in having changing of my view to life. But all those things in many ways help me understand something, at least that what Ithink it is. They made me realize my place in life. I may not be the perfect gentleman for those women who know me, or the perfect employee for my superiors or those above me in position, or the perfect coworkers in my work place. I need this change. And I change not for the sake of other thing than myself.

     Last night, after watching an interview with Mario Teguh, I realize that I've been not fair to mysefl. I've treated myslf wrongly. The only one to blame for my failure is me alone. Not anyone else. Look what have I done to myself, I let myself down. I made myself worth less than what I was supposed to. I didn't treat myself correctly. What I did was I made myself looked bad in front of others. I didn't present myself to the maximum I could. I was busy blaming others for my failures. Well, those things won't happen again. It's time for me to change everything. Starting by making myself presented well. I need to value myself higher than before. It means I have to treat myself more dignified. Talk better and react to situations better. Be more patients in facing obstacles. It may not be easy and smooth, but I'm going to try to achieve those. 
Blogged with the Flock Browser

Wednesday, September 23, 2009

Makan Apa ya enaknya?

Beberapa hari setelah lebaran biasanya adalah saat-saat yang membingungkan buat kita. Soalnya setelah terbiasa makan makanan enak pas hari lebaran, stok makanan sudah mulai berkurang. Ibu-ibu yang mau masak juga bingung karena ga tau mo masak apa yang mudah dan enak buat  keluarganya. Masalah lain adalah lidah anggota keluarga ynag masih belum menentu akibat terlalu banyak makan makanan yang enak setelah atau pas hari lebarannya.

     Jadi masak makanan apa ya enaknya? Ga usah bingung bray, bawa aja uang yang lumayan cukup, pergi ddeh ke warung makan atau resto cepat saji terdekat. Bray bisa pilih menu apa yang sekiranya lagi diminati saat itu. Tapi kalo pergi ke fast food aja masih bingung, aku ada solusi yang lumayan simpel. Coba liat di meja makan ada sisa makanan apa. Coba bikin kombinasi yang tepat dengan makanan itu. Masih bingung juga? Beli aja mie rebus sesuai selera, ikuti instruksi masaknya, jangan lupa masuka sayuran secukupnya. Masih bingung juga? Mungkin ini adalah saat yang tepat buat kita untuk puasa lagi. Setelh dua hari memuaskan diri dengtan makanan yang lezat nan nikmat, mungkin inilah saatnya buat kita untuk mempuasakan dan membiasakan kembali pola makan kita yang sudah mulai semraut. Kita hentikan sejenak asupan lemak serta kolestrol jahat kedalam sistem kita. Kita istirahatkan kembali pencernaan kita dengan mengkonsumsi makanan yang secukupnya. Istilah kedokterannya mungkin adalah detoksifikasi.  Saatnya kita keluarkan racun-racun yang ada dalam tubuh kita agar kita menjadi lebih sehat.

    Sejatinya, saat kita puasa(dalam arti yang sebaik-baiknya puasa) tubuh kita mengalami perlambatan metabolisme dan pembakaran yang lebih. Saat kita puasa, tubuh kita membakar lebih banyak lemak tubuh yang berlebih sehingga kita biasanya merasa lebih 'gerah' atau kepanasan dibanding hari biasa. Kenaikan suhu ini juga diikuti dengan peningkatan kadar/ jumlah sel darah putih yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Jikalau kita mengalami skit saat kita berpuasa itu karena asupan makanan atau nutrisi kita terganggu. Kita cenderung makan makanan tertentu lebih banyak dibanding makanan lainnya yang dibutuhkan tubuh, sehingga badan kita mengalami ketidakseimbangan yang berakibat badan kita rentan terhadap penyakit tertentu. Kembali lagi ke topik semula, badan yang mengalami detoksifikasi akan meningkat kembali metabolismenya ketika kadar gula kembali normal. Ibarat mesin, setelah 'tune-up' badan kita pun membutuhkan waktu untuk kembali berfungsi normal kembali. Jadi seharusnya kita pun harus sedikit menyesuaikan asupan makanan kita pasca puasa. Mulai dengan memberi asupan yang seimbang dan sehat. Perbanyak asupan serat dan cairan. Hindarkan tubuh kita dari mengkonsumsi soda yang berlebih. Insya Allah, dengan cara tersebut kita bisa memperoleh hikmah dan manfaat puasa yang optimal. Selamat puasa kembali dan selamat mencoba. ^_^
Blogged with the Flock Browser

Sunday, September 20, 2009

Hari Kemenangan

         Takbir berkumandang bersahut-sahutan di sepanjang pagi ini. Orang berduyun-duyun pergi ke tanah lapang atau masjid-masjid besar untuk melaksanakan shalat Ied berjamaah. Beberapa puluh menit kemudian, mereka pun berhamburan keluar, saling bersalaman dan bermaafan ketika mereka berpapasan dengan mereka. Ada kesamaan di wajah mereka. Mereka begitu ceria dan bahagia. Mereka menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita. Tapi, setelah itu apa?

         Apa sih sebenarnya hari kemenangan itu? Cukupkah hanya dengan bergembira menyambut Iedul Fitri? Atau dengan mengenakan pakaian baru dan hidangan-hidangan yang lezat di meja makan kita? Mempersilahkan tamu-tamu yang berkunjung untuk menikmati sajian yang telah kita siapkan semata-mata untuk hari yangspesial ini? Tampaknya tak banyak orang yang begitu peduli apakah kita bisa benar-benar mendapatkan kemulian di hari kemenangan ini. Hampir semuanya menjadi kabur. Apakah inti hari kemenangan kita hari ini? Tidak ada yang tahu secara persis. Tetapi jika kita mau sedikit saja melihat kebelakang, tentang apa yang telah kita lakukan selama 29-30 hari kebelakang, ada sesuatu yang seharusnya bisa kita pelajari. Di awal-awal bulan puasa, kita telah menyambut puasa dengan begitu meriah. Saking meriahnya sehingga kita tidak sadar telah mengeluarkan banyak enerji dan uang yang seharusnya tidak perlu. Kita mendadak menjadi manusia pemboros, hanya karena ingin memuaskan diri kita ketika berbuka. Apakah itu tujuan kita berpuasa? Sepertinya bukan. Bukankah kita dijarkan berpuasa agar kita bisa merasakan apa yang saudara kita rasakan kala mereka tak mampu. Apa yang telah kita lakukan malah sebaliknya. Kita malah berusaha berfoya-foya dengan apa yang kita miliki. Kita seharusnya menahan nafsu kita, tidak hanya nafsu makan dan minum serta nafsu sexual saja selain nafsu menahan amarah tentunya, tetapi kita tidak mampu menahan nafsu untuk memuaskan diri kita dengan apa yang kita lewatkan disiang hari. Jadi apalah guna kita berpuasa jika kita masih saja menempatkan diri kita di atas orang-orang yang seharusnya kita ambil pelajaran daripadanya. Seharusnya kita malu. Malu karena kita tidak mencapai apa yang menjadi target Al Quran isyaratkan kepada kita ketika kita diwajibkan untuk berpuasa.

         Namun yang sudah terjadi, sudahlah. Kita masih punya masa depan di depan kita. Kita masih sempat untuk memperbaiki diri kita. Mudah-mudahan kita masih diberi umur yang panjang untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan tahun ini, yang seharusnya kita pelajari dari ibadah kita tahun ini. Mari kita menyambut Iedul Fitri ini dengan visi yang lebih baik lagi. Instropeksi apa yang telah kita lakukan. Mari kita lakukan apa yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan doa-doa dan harapan kita, Amieeeennn...

Blogged with the Flock Browser

Hari Kemenangan

         Takbir berkumandang bersahut-sahutan di sepanjang pagi ini. Orang berduyun-duyun pergi ke tanah lapang atau masjid-masjid besar untuk melaksanakan shalat Ied berjamaah. Beberapa puluh menit kemudian, mereka pun berhamburan keluar, saling bersalaman dan bermaafan ketika mereka berpapasan dengan mereka. Ada kesamaan di wajah mereka. Mereka begitu ceria dan bahagia. Mereka menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita. Tapi, setelah itu apa?

         Apa sih sebenarnya hari kemenangan itu? Cukupkah hanya dengan bergembira menyambut Iedul Fitri? Atau dengan mengenakan pakaian baru dan hidangan-hidangan yang lezat di meja makan kita? Mempersilahkan tamu-tamu yang berkunjung untuk menikmati sajian yang telah kita siapkan semata-mata untuk hari yangspesial ini? Tampaknya tak banyak orang yang begitu peduli apakah kita bisa benar-benar mendapatkan kemulian di hari kemenangan ini. Hampir semuanya menjadi kabur. Apakah inti hari kemenangan kita hari ini? Tidak ada yang tahu secara persis. Tetapi jika kita mau sedikit saja melihat kebelakang, tentang apa yang telah kita lakukan selama 29-30 hari kebelakang, ada sesuatu yang seharusnya bisa kita pelajari. Di awal-awal bulan puasa, kita telah menyambut puasa dengan begitu meriah. Saking meriahnya sehingga kita tidak sadar telah mengeluarkan banyak enerji dan uang yang seharusnya tidak perlu. Kita mendadak menjadi manusia pemboros, hanya karena ingin memuaskan diri kita ketika berbuka. Apakah itu tujuan kita berpuasa? Sepertinya bukan. Bukankah kita dijarkan berpuasa agar kita bisa merasakan apa yang saudara kita rasakan kala mereka tak mampu. Apa yang telah kita lakukan malah sebaliknya. Kita malah berusaha berfoya-foya dengan apa yang kita miliki. Kita seharusnya menahan nafsu kita, tidak hanya nafsu makan dan minum serta nafsu sexual saja selain nafsu menahan amarah tentunya, tetapi kita tidak mampu menahan nafsu untuk memuaskan diri kita dengan apa yang kita lewatkan disiang hari. Jadi apalah guna kita berpuasa jika kita masih saja menempatkan diri kita di atas orang-orang yang seharusnya kita ambil pelajaran daripadanya. Seharusnya kita malu. Malu karena kita tidak mencapai apa yang menjadi target Al Quran isyaratkan kepada kita ketika kita diwajibkan untuk berpuasa.

         Namun yang sudah terjadi, sudahlah. Kita masih punya masa depan di depan kita. Kita masih sempat untuk memperbaiki diri kita. Mudah-mudahan kita masih diberi umur yang panjang untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan tahun ini, yang seharusnya kita pelajari dari ibadah kita tahun ini. Mari kita menyambut Iedul Fitri ini dengan visi yang lebih baik lagi. Instropeksi apa yang telah kita lakukan. Mari kita lakukan apa yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan doa-doa dan harapan kita, Amieeeennn...

Blogged with the Flock Browser

Sunday, September 13, 2009

Silent Night

It's one of those nights
when I got that memories again.
Why do you have to linger in my head,
after so long..long time.

I need to move on,
That's what I always tell myself.
But, how can I forget you...
If you took a piece of my heart with you.

Tonight,
I'll try to get rid of your face in my mind.
I don't wanna sound desperate anymore...
I have enough...
I don't want you to block my way again.

It's about time for me...
to find a new destination.
I have to give myself a chance
to know other hearts, though It may not be as gentle as yours.

Good bye, my memories.
Hope, you'll never knock on my door again.

Blogged with the Flock Browser