Sunday, October 18, 2009

Do I do wrong?

A friend of mine told me this story this morning. He told me that he had this bad relationship with his exes. He told me how much his friend used to have great time together with his exes, but when his friends broke up with his exes, he(his friend) didn’t have it smoothly. So now, every time he meets his exes, he would turn away and avoid them.

Personally, I don’t wanna know their problem since I don’t know exactly who they are. However, may be I can learn something from this. So, I said, why did he avoid his exes? My friend didn’t answer it right away, but instead he asked me a question. He said, what would I do if after all this time his friend actually never stop thinking of his exes, at least one particular person? Then, I thought for a while and answered I would probably tell her, the ex, how I felt about it. Then, my friend said, that’s exactly what happened to him, the friend. And apparently, the ex didn’t feel the same and thought the friend was still after her. So, now every time she meets him, both of them would look the other way and avoid each other.

Should it be that serious? Well, I could not blame anyone here in this case. They have any right to do so. After all, it’s their lives. Then I started to think that may be, just may be, they need a third prty to clear the misunderstanding between them. And whomever the 3rd party is, he/she should be neutral and unbiased. And may be the 3 party can help yhem by giving insight to the disputing party of what they could do to end the dispute. Well, I thought I was quite lucky, I didn’t have problem with my exes. Other wise, I might have the same problem with the friend, and I knew it wouldn’t be nice.

Thursday, October 15, 2009

Pemimpin Idealku

Suatu hari aku ketemu seorang bapak tua di sebuah bis menuju arah pulang. Dia mulai cerita pengalamannya dulu ketika dia masih muda dan bekerja pada sebuah perusahaan besar di Bandung. Dia bercerita tentang seorang Supervisor di mana dia bekerja dulu. Dia bilang, atasannya itu sangatlah bijak dan santun terhadap anak buahnya. Walaupun dia, si atasan, itu punya kuasa terhadap anak buahnya, dia tidak pernah semena-mena terhadap mereka. Dan yang lebih hebat lagi, beliau sangat aspiratif. Dia mau mendengar usulan dan kritikan dari anak buahnya, walau kadang cara dan isi kritikan tidak selamanya baik atau dengan tata cara yang semestinya. Lalu aku teringat dengan semua atasan-atasan ku selama ini. Sepertinya, aku pernah dapat yang seperti ini...atau belum ya..?

Bapak tua itu melanjutkan, Atasan bapak itu senantiasa menjaga komunikasi dengan anak buahnya. Dia selalu menyempatkan untuk sekedar menanyakan kabar bawahannya, atau sekedar becanda. Tapi ketika ada masalah, beliau tidak pernah kehilangan kesabarannya. Beliau mau memasang badan demi anak buahnya yang diperlakukan tidak adil oleh peJustify Fullrusahaan. Malah tidak jarang, dalam memutuskan suatu kebijakan, beliau selalu memikirkan baik buruknya untuk bawahannya. Beliau tidak segan untuk berkata jujur bila ada masalah yang dihadapi oleh perusahaan sehingga berimbas pada karyawan-karyawan perusahaan tersebut. Beliau juga berani mengakui kesalahan bila memang beliau berbuat salah.

Pada suatu ketika, be,iau diminta merekomendasikan beberapa karyawan untuk dipromosikan. Maka beliau pun meminta pendapat anak buahnya dengan sungguh-sungguh. Tanpa topeng manis atau sekedar basa basi saja. Ketika beliau meminta pendapat, beliau tidak hanya mendengar, tetapi lebih lanjut lagi mempertimbangkan usulan tersebut baik-baik. Sehingga beliau dapat mebuat keputusan yang benar-benar terbaik, bukan terbaik versi dia saja. Lalu aku coba bandingkan dengan pengalamanku selama ini, sepertinya aku belum ketemu yang seperti ini. Biasanya, sebagian atasanku hanya meminta pendapat anak buah sebagai formalitas biasa-tidak lebih sebagai lipstik dan kosmetik luar saja karena toh, ujung-ujungnya pendapat dia pribadi yang dipakai. Ibarat temanku bilang, dalam main kartu, si bos sudah pegang semua kartu As. Jadi jika ada yang berani usul yang tidak sepadan dengan dia, tinggal kartu As yang perlu ditunjuk, semua tentu kalah. edih juga bila aku teringat hal macam itu.
Akhirnya beliau memilih tiga orang yang memang dianggap terbaik, dan ini disetujui oleh rekan-rekan si bawahan yang ditunjuk. Luar biasa memang beliau ini.

Dilain kesempatan, ada suatu ketika dimana ada anak buahnya berbuat kesalahan yang lumayan fatal sehingga hal tersebut mempengaruhi karyawan yang lain. Beliau langsung turun tangan dan mengambil tindakan yang tegas terhadap kesalahan tersebut, sehingga stabilitas emosi karyawan yang lain pun reda.

Aku jadi berpikir, kapan ya aku dapat bos seperti beliau ini? Pasti suasana kerja bisa lebih kondusif jika situasinya seperti itu. Kapan ya? Atau jika aku nanti jadi pemimpin, mampukah aku berbuat demikian? Semoga Tuhan mau mendengar doaku ini. Dan karena aku belum jadi pemimpin, aku harap pemimpin-pemimpin yang lain bisa lebih arif dan bijaksana lagi dibanding beliau yang aku ceritakan ini. Amin...

Tuesday, October 13, 2009

Menanti Miyabi

Ketika mendengar nama Miyabi, apa yang terpikir oleh ku adalah seorang wanita jepang yang sering tampil di film-film "itu" kan? Anda pun saya yakin akan berpikiran sama, ya minimal kearah sana lah. Tapi yang bikin saya agak mengkerutkan dahi adalah Miyabi akan datang ke Indonesia untuk membuat film, dengan judul yang mirip-mirip film ecek-ecek; "Menculik Miyabi". gat lah ....
Banyak pro dan kontra soal kedatangan salah satu makhluk tuhan paling seksi sekolong langit itu. Ada yang berkata, hendaknya kita tidaklah berburuk sangka dulu tentang kedatangan Sang Miyabi. Sementara lainnya malah menghujat habis-habisan, saking tidak sukanya, bahkan salah seorang anggota lembaga Muslimterbesar di Indonesia malah menyatakan, dengan nada perang, mengecam habis kedatangan sang Miyabi. Apa sih yang membuat Miyabi begitu santer dibicarakan? Kalo mau jujur, Maria Ozawa alias Miyabi ini hanyalahseorang wanita biasa, walaupun dengan banyak kelebihan fisik tentunya. Selain itu, biasa saja.

Bagi yang mengecam dan tidak suka, (sebagian besar adalah perempuan) pastinya menakutkan profesi si Miyabi ini akan mempengaruhi stabilitas negara kita. Kebanyakan takut, jika Miyabi akan membawa dampak negatif karena profesi dia yang seorang bintang film porno, yang katanya sangatlah....wah.... Mereka takut, Miyabi akan menyebar virus pornografi dan pornoaksi. Mungkin kah? Bukankah sebelum Miyabi datang, virus itu sudah menyebar. Bahkan, bagi yang tadinya tidak tahu, rekan sekerja atau tetangga kita malah orang yang memberitahu kita tentang hal itu pertama kali? Bahkan, tidak diberi pun, sebagian dari kita malah mencarinya sendiri-entah ke lapak cd atau malah browsing diinternet yang tersedia gratis. Tinggal ketik namanya di google, maka berderet entry dengan nama itu pun bermunculan. Lalu apa yang mesti ditakutkan? Ketakutan itu sudah ada sedari lama.

Bagi yang mendukung, jelas ini merupakan angin surga bagi mereka. Mereka bisa melihat Miyabi tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Terang-terangan dan blak-blakan. Yang diuntungkan disini tentu tidak hanya satu-dua orang saja. Pasti banyak pihak, terutama tentunya produser dan kru flimnya...serta kita yang menonton. Entah diamembuat film yang berkualitas atau malah sebaliknya, yang jelas saya tidak terpikirkan adanya film yang layak dilombakan jika judulnya saja "Menculik Miyabi". Nama Miyabi itu sendiri sudah punya brand image yang tertentu, tak usahlah saya sampaikan disini. Kira-kira anda sendiri sudah membayangkan apa yang akan anda saksikan dengan judul seperti itu.

Lalu, apa sih yang sebaiknya kita lakukan? Jika anda salah seorang yang keberatan, maka yang sebaiknya anda lakukan adalah blok anak dan saudaraanda dari melihat dan mengetahui tentang adanya si Miyabi ini. Usahakan mereka tidak mengetahui. Tindakan pencegahan sepertinya lebih cocok dari pada anda bertindak brutal dan anarkis. Tidakperlulah berdemo didepan publik, karena terus terang anda tidak akan menang, dan paling parah...tidak ada yang perduli jika anda protes.Nah bagi yang mendukung, itu semua adalah hak anda. Mat-mata anda, jikalau pun ada yang dirugikan, ya itu juga urusan anda. Anda rugi, itu urusan anda juga. Tapi boleh saya sarankan, jangan terlalu bersemangat jika membicarakan hal tersebut. Orang mungkin akan mengecap anda yang tidak-tidak, atau malah berpikir anda pada dasarnya adalah "omes" alias otak mesum. Walaupun iya, anda tentu tidak mau disebut demikian kan?

Saturday, September 26, 2009

Reuni nih...

Ada satu masa di kala aku merasa bosan dan ingin cepat melalui masa itu. Ingin rasanya aku lompati saat-saat itu karena sesuatu hal yang tidak aku sukai. Ada kalanya aku benci dengan apa yang sedang terjadi dengan aku karena hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang aku ingin kan. Dan aku juga yakin ini tidak hanya terjadi pada diriku sendiri. Kamu dan semua orang di dunia ini juga pasti pernah mengalaminya. Tapi benarkah kita harusnya mensikapi hal-hal tersebut demikian? Sekarang di kala aku sedang sendiri, terpaku pada suatu masa, aku kadang berpikir seandainya... Seandainya begini, seandainya begitu... Tapi seandainya tidak akan mungkin terjadi, karena tidak satupun dari kita bisa memutar balik waktu.

     Hari ini aku menghadiri acara reuni yang diadakan oleh teman-teman seangkatan sewaktu SMA dulu. Ada beberapa wajah yang kukenal, sementara lainya mungkin sekelebat pernah aku ingat, tapi aku sendiri ragu apa aku pernah mengenal mereka. Ada banyak rasa yang timbul saat aku perhatikan keberadaan mereka. Ada keberhasilan yang diperlihatkan, tapi ada pula keterpurukan yang sekelebat tampak. Ada sedikit rasa cemburu akan keberhasilan mereka, tapi dalam sekejap sirna dengan rasa bangga akan apa yang mereka perlihatkan pada yang lain. Aku tak melihat rasa kesombongan atsa semua pencapaian yang mereka raih. Secara fisik, tentu mereka juga banyak berubah. Ada yang bertambah gemuk, ada yang malah tambah ramping dan makin menarik. Sementara lainya, lebih banyak pada pengurangan penampilan. Rambut yang dulu hitam lebat, kini ada yang mulai menipis dan berganti uban. Yang dulu begitu menawan karena masa mudanya, kini berganti menjadi lebih 'dewasa' dengan tambahan kerut dan lebarnya permukaan kening. NAmun, diluar itu semua, mereka masih orang yang samakita kenal... dulu. Perubahan fisik memang terjadi. Tapi tak tampak olehku penyesalan akan apa yang telah terjadi.

     Setelah tujuh belas tahun lamanya kami tak bertemu, kami punya satu topik yang sama. Masa lalu yang menyenangkan. Dulu kita begitu ingin cepat melewatkan masa-masa yang menyebalkan itu. Tapi sekarang, ada rasa kita yang rindu akan masa-masa 'menyebalkan' itu. Dari masa lalu, topiknya beralih ke tinggal di mana sekarang? Kerja apa? Sudah punya anak berapa? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat lazim ditanyakan, tapi punya jawaban yang beragam bagi setiap orang. Ada yang bereaksi senang, ada yang bereaksi seadanya, dan tidak sedikit bereaksi tidak peduli. Tapi yang aku perhatikan hanya apa yang mereka sampaikan. Aku sama sekali dengan cara mereka menyampaikan, karena itu tidak penting bagiku. Hari ini aku hanya ingin melihat kebahagiaan. Hari ini aku hanya ingin melihat tawa. Dan itu semua aku dapat hari ini. Kami sudah tidak punya waktu membahas penderitaan. Biarlah penderitaan yang pernah kami alami sebelum ini kami pendam sendiri. Tak guna bagi kami berbagi penderitaan. Masa 17 tahun terlalu banyak yang dialami, dan hari ini kami hanya punya beberapa jam saja. Jadi buat apa kami habiskan untuk menyesali diri. Aku sangt setuju dengan hal ini. Reuni memang saatnya untuk berbagi, berbahagia, bersuka-cita. Bukan saatnya meratapi diri dan bermuram. Selamat bereuni. Berbagi kisah gembira.
Blogged with the Flock Browser